[Review] Senyum Sang Bidadari

Salwa kecewa karena tidak sanggup menuntaskan hafalan Al-Quranya ketika mengikuti tes disebuah pesantren. Usaha kerasnya selama 10 tahun tidak membuahkan hasil. Padahal ia sudah berjuang mati-matian untuk merekam ayat demi ayat itu didalam memorinya. Setiap saat disela-sela kewajibannya sebagai istri dan ibu, Salwa terus mengulang hafalannya. Ketika memasak, menyuci, menyusui, menjaga anak-anak, dikeheningan malam, di perjalanan, bahkan kadang ia lantunkan dalam hati kala tubuh sudah ambruk diatas ranjang. Kapan pun, jika ada kesempatan, ia manfaatkan untuk menghafal dan mengulang.
Namun hafalan tersebut mulai buyar. Salwa tidak lagi bisa berkonsentrasi lantaran Sami, suaminya menyampaikan maksud ingin menikah lagi. Hatinya hancur meninggalkan kepingan luka. Salwa hanya bisa menahan kepedihan sampai penyakit kanker darah yang ia derita selama ini kembali menganggunya. 
“Kepingan-Kepingan Luka” merupakan salah satu dari 12 cerpen yang saya sukai dalam buku ini. Kisah yang menyentuh sekaligus penuh hikmah. Berkisah tentang perasaan seorang wanita yang dipoligami dengan segala kesabarannya mencoba untuk bertahan. Namun hati kecilnya tidak bisa membohongi ketika ia ternyata tidak bisa menuntaskan hafalannya, lantaran segala luka itu mengalihkan pikirannya. 
Ada beberapa kisah di Kumpulan Cerpen ini yang memang bercerita tentang Poligami. Namun tetap nyaman untuk dinikmati. Seperti cerita “Diantara Dua Hati”, yang mencoba memaparkan poligami dari sisi yang lain. Dikisah ini menceritakan bagaimana keikhlasan seorang istri serta kemantapan seorang suami untuk mencoba bersikap adil kepada kedua istrinya. Membaca cerita ini membawa saya kedalam nuansa romantis tapi miris hehe. Tidak terbayang bagaimana tegarnya hati kedua perempuan yang mau berbagi suami. 
Disamping itu buku ini juga menceritakan tentang perjuangan cinta dan perjuangan iman. Kisahnya disajikan secara bersahaja, namun tetap mengedepankan kekuatan seorang perempuan dalam menghadapi segala permasalahan hidup. Sebagaimana seorang bidadari yang terus mencoba tersenyum dibalik segala kegundahan hati dan mencoba tetap tegar dengan berpegang pada iman didalam jiwa. 
Hanya saja dibuku ini ada beberapa cerita yang menurut saya alurnya mudah ditebak dengan pembawaan cerita yang biasa-biasa saja. Namun demikian tidak mengurangi kualitas buku ini secara keseluruhan. Dengan tema religi romantis, buku ini bisa dibaca oleh remaja maupun dewasa. Bahasanya yang ringan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuntaskannya.
Dari segi cover buku ini didominasi dengan warna biru. Tampilan yang sejuk dilengkapi dengan wajah seorang perempuan yang memakai cadar dan penutup kepala berwarna putih. Seolah-olah mengisyaratkan misteri hati seorang perempuan yang kadang sulit ditebak. Seperti seseorang bidadari yang terus mencoba tersenyum walau kadang hatinya menangis.