Sulaman Terakhir

Sesekali perempuan kecil itu terkantuk-kantuk menyudahi sulaman yang terhampar pada pamedangan dihadapannya. Matanya mulai perih, apalagi cahaya temaram dari lampu minyak membuat kepalanya tidak sanggup melawan grafitasi. Setiap kepalanya terjatuh, saat itu pula suara sang ibu mengejutkannya. Sulaman yang harus diselesaikan malam itu juga membuat ia mau tidak mau harus begadang semalam suntuk.
Dan perempuan kecil itu kupanggil Ama (ibu).########################### 

Saya masih ingat ama bercerita tentang bagaimana susahnya dulu beliau hidup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Siang malam harus membantu nenek menyelesaikan sulaman agar esoknya bisa diantar ke juragan kain. Belum lagi penerangan yang masih belum seterang sekarang. Bahkan menemukan hidung menghitam keesokan harinya gara-gara asap lampu minyak sudah biasa bagi ama. Meskipun mungkin lelah tapi ama tidak punya pilihan lain. Beliau tetap menyulam bahkan ketika sudah berkeluarga keterampilan itu tetap beliau gunakan.

Paska Apa bangkrut kehidupan kami kata orang seperti “jatuah tapai” (tape jatuh). Layaknya seperti tape jatuh udah hampir hancur dan susah untuk diambil atau diangkat kembali. Tapi kami tetap berusaha walau mesti dimulai dari nol kembali. Seperti menjahit sulaman yang dilakukan oleh ama disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga.

Menyulam sudah menjadi tradisi di daerah kami. Bahkan dulu konon katanya perempuan minang yang belum pandai menyulam tidak boleh menikah. Bersyukur ama sangat pandai menyulam. Sulaman beliau sangat rapi dan bagus. Oleh karena itu juragan kain sangat senang dengan hasil sulaman Ama. Yah walaupun pekerjaan dan upahnya tidak sebanding tapi ama mengaku senang dengan pekerjaan tersebut.
Meskipun sekarang menyulam bisa dilakukan dengan mesin, sulaman dengan tangan tetap jauh berbeda kualitasnya. Ama menyulam menggunakan pamedangan, yaitu berupa potongan kayu panjang yang dibuat persegi panjang untuk meregangkan kain. Ketika pamedangan itu terakhir kali digunakan, penampakannya sangat menyedihkan. Beberapa bagian kayu sudah patah dan untuk menyatukannya hanya diikat dengan kain. Di beberapa sisi juga nampak bekas paku-paku agar pamedangan tersebut tetap bisa berdiri tegak.

Untuk menyulam dengan pamedangan dilakukan dengan duduk melantai. Begitulah Ama menghabiskan waktu luangnya, duduk bahkan sampai kaki keram. Pundak yang lelah atau pinggang yang sakit sering jadi alasan untuk rehat sejenak. Saya yang sering membantu Ama menyulam juga sering merasakan yang sama apalagi Ama. Tapi Ama adalah tipe seorang ibu yang susah sekali disuruh berhenti bila mengerjakan sesuatu. Selalu ada kekuatan yang timbul dari fisiknya yang lelah dan kekuatan itu berasal dari Hati.

Diantara ke lima anak beliau saya lah yang paling sering membantu Ama menyulam. Banyak hal yang telah kami lalui dengan aktifitas menyulam. Namun semua itu jadi tidak semudah sebelumnya ketika Ama mengalami kecelakaan. Peristiwa itu terjadi ketika beliau akan berangkat menuju Malaysia menggunakan kapal. Sebelum berlayar Ama menempuh perjalanan darat sekitar 5 jam lebih menggunakan travel. Posisi beliau yang saat itu berada dikursi belakang mendapat hentakan keras ketika sang sopir travel tidak sengaja melewati jalanan berlubang parah. Akhirnya Ama terhentak, tulang punggungnya retak dan bengkok. Dan yang paling membuat saya sedih kami sekeluarga tidak diberitahu sama sekali sampai Ama kembali pulang dari Malaysia. 🙁

Sejak peristiwa itu menyulam menjadi pekerjaan berat bagi Ama. Posisi bagaimana pun tetap saja membuatnya tidak menjadi semudah sebelumnya. Berkali-kali beliau menaruh sesuatu dipunggung untuk bisa bersandar tapi tetap saja itu tidak bisa menyembunyikan rasa sakit diwajah beliau. Ama tetaplah ama yang tidak pernah mengeluh walau rasa sakit sudah sampai ke ubun-ubun.

Semenjak kecelakaan itu kondisi hari demi hari kondisi ama semakin menurun. Ditambah penyakit jantung yang sudah hampir sepuluh tahun menggerogoti tubuh beliau mulai menampakkan taringnya. Apalagi dengan kondisi tulang belakang yang demikian semakin melemahkan beliau untuk melawan penyakit itu.

Ama yang semakin hari semakin kurus, namun semangat dan senyumnya tetap terpancar. Tidak ada keluh kesah, beliau tetap seperti biasa. Yang beda hanyalah fisik yang terus melemah namun jiwa beliau tetaplah seperti Ama yang dulu membimbing saya pergi sekolah. Tetaplah Ama yang menyuapi saya dari nasi dipiringnya. Tetaplah Ama yang bisa menjadi sahabat, kakak sekaligus orang tua yang baik buat saya.

###################
Magrib 3 Juli 2011 Ama akhirnya kembali pada Sang Pemilik kehidupan. Diusianya yang ke 53 bagi saya Ama masih tetap cantik begitu juga ketika beliau pergi. Seketika saya tersadar jauh hari sebelum kepergian beliau, ama membuatkan saya satu jilbab putih yang dihiasi oleh sulaman beliau sendiri. Sulaman yang waktu itu saya tidak sempat menbantu sama sekali. Yang ternyata adalah sulaman terakhir beliau.

Dadaahhh maa…semoga kita bisa bertemu kembali. Semoga Ama saat ini sedang sibuk menyiapkan tempat di surga dan semoga itu untuk kami.. semoga bisa makan sampadeh dagiang ama lagi :-)